Peranan Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam menciptakan kreativitas serta usaha mandiri berbasis teknologi sebagai industri kreatif.

Rabu, 05 Oktober 2016

Contoh Startup sebagai Industri Kreatif di Indonesia

Dengan pesatnya perkembangan teknologi di indonesia saat ini dan di saat kita sedang memasuki masyarakat ekonomi ASEAN, maka beberapa kota di Indonesia dengan dukungan para ahli dari kalangan universitas sedang mengembangkan industri kreatif berbasis teknologi dan kreativitas yang mana anak muda dapat menjadi tulang punggung perekonomian daerah, bahkan nasional Salah satunya adalah pengembangan start up oleh berbagai kalangan baik perusahaan maupun individu. Salah satu tujuan berdirinya startup adalah untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat dengan menyelesaikan masalah nyata di kehidupan sehari-hari. Di Indonesia, kita sudah bisa menjumpai banyak jenis startup yang menyasar berbagai bidang, mulai dari e-commerce, pendidikan, properti, keuangan, retail, dan tak ketinggalan, industri kreatif. Berikut lima startup yang mempromosikan industri kreatif di Indonesia:

1. Creasi

Teknologi-informasi-dan-kreativitas

Mempertemukan creative talent dan talent seeker merupakan tujuan berdirinya website ini. Creasi merupakan platform pencarian kerja khusus untuk industri kreatif Indonesia. Di website ini, para creative talent yang menekuni industri kreatif seperti desain, fotografi, musik, teater, dan lainnya bisa mencari pekerjaan atau proyek di bidang yang mereka tekuni tersebut. Mereka hanya perlu mendaftar di Creasi, membuat profil, menunjukkan portfolio, lalu melamar kerja atau proyek dari talent seeker. Saat ini website Creasi masih dalam versi beta.


Start-up-industri-kreativitas-IT

Sama seperti Creasi, Eksisenter juga merupakan platform yang mempertemukan creative talent dan talent seeker. Pada website ini, para creative talent bisa mempromosikan dirinya secara online dengan menampilkan profil dan portfolio mereka. Saat ini, ada 13 kategori creative talent yang bisa bergabung dengan platform Eksis yaitu artis, band, blogger, dancer, desainer, entertainer, fotografer, komedian, master of ceremony, model, motivator, musisi, dan penyanyi. Hingga September lalu, website yang didirikan pada akhir Juni 2014 ini baru memiliki sekitar 30 creative talent. Eksisenter merupakan salah satu peserta Indigo Incubator 2014.

3. Kreavi

startup-kreativitas-dalam-teknologi-informasi

Kreavi merupakan jejaring sosial dan marketplace industri kreatif di Indonesia. Layaknya jejaring sosial lainnya, pada website ini pengguna bisa mem-follow anggota lain, meng-upload karya-karya mereka, memberi like, dan komentar. Selain menghubungkan para creative talent di negara ini, Kreavi juga memberi peluang bagi mereka untuk menemukan pekerjaan atau proyek dari para talent seeker atau perusahaan. Startup ini juga rutin mengadakan Kreavi Challenge dimana para creative talent berkompetisi untuk menyelesaikan sebuah proyek dengan hadiah tertentu. Dilihat dari kategorinya, Kreavi lebih berfokus pada kreatif visual seperti desain, animasi, dan fotografi.

4. Sribu

Teknologi-kreativitas-berbasis-TIK

Sribu merupakan marketplace desain yang mempertemukan klien dengan komunitas desainer. Di sini, klien, baik itu perusahaan maupun individu, bisa membuat kontes desain sesuai dengan kebutuhan mereka dan akan mendapatkan ratusan pilihan desain dalam waktu singkat. Desainer sendiri bisa mengikuti berbagai jenis kontes yang tersedia di menu Lihat Kontes. Kontes-kontes yang tersedia biasanya berisi penjelasan singkat, deadline, jumlah peserta kontes, serta hadiah yang bisa didapatkan desainer jika desainnya terpilih. Hingga Juni lalu, Sribu sudah memiliki lebih dari 1.500 klien, 44.000 desainer, serta lebih dari 300.000 portfolio yang sudah di-upload.

5. Tees

Industri-kreatif-teknologi-informasi-dan-komunikasi

Tees merupakan sebuah website marketplace desain untuk kaos, jaket, mug, casing handphone, serta merchandise lainnya. Melalui Tees, para anggota bisa meng-upload desain produk buatan mereka dan dapat langsung menjualnya menggunakan brand mereka sendiri. Tees dapat dibilang sebagai sebuah fasilitator yang menjembatani pelaku kreatif dengan konsumen tanpa harus terhalang kekurangan pengetahuan bisnis. Asyiknya, hampir semua proses dilakukan oleh Tees seperti produksi, pengurusan stok, customer service, pembayaran, dan lain sebagainya. Desainer hanya perlu mendesain, meng-upload, dan menentukan harga produknya. Untuk setiap produk yang terjual, Tees menarik biaya tertentu, misalnya Rp 85.000 untuk kaos, Rp 120.000 untuk casing handphone, dan lain sebagainya.

Share:

0 komentar:

Posting Komentar

Total Tayangan Halaman